Band Ungu dan peran komunitasnya

Okey..sebelumnya saya mau bilang postingan kali ini bukan tulisan saya, tapi tulisan yang dibuat oleh salah satu member the-marketeers yang bernama Kemal. sengaja saya simpan di blog ini biar temen2 yg lain juga bisa ikut baca tulisan beliau. Gak usah khawatir saya dah minta izin ke orangnya kok, dan orangnya juga setuju, jadi…selamat membaca..& thanks Kemal..

—————————————————————————————-

Coba anda saksikan di televisi yang sedang menyiarkan penghargaan untuk insan musik terbaik di Indonesia. Ketika sebuah group band atau penyanyi solo disebutkan sebagai pemenang sebuah penghargaan musik baik itu double platinum, atau penghargaan musik bergengsi lainnya, pasti ada ucapan terima kasih yang mereka utarakan, diantaranya kepada fans-fans mereka yang selalu setia mendukung bahkan menjadi inspirasi musik bagi group band tersebut.

Apa mau dikata, fans memang sudah jadi bagian dari perjalanan musik mereka yang berkecimpung didunia hiburan yang tidak pernah mati ini. Ketika melakukan sebuah pertunjukan musik dan menyaksikan sendiri ratusan bahkan ribuan fans yang mengelu-elukan nama mereka, bahkan ikut bernyanyi, itulah spirit yang dinanti-nantikan untuk memberikan performance yang terbaik.

Namun dunia musik di Indonesia bisa dibilang sangat dinamis. Mereka yang tidak mampu bertahan menghadapi persaingan dan tidak mampu untuk terus berkarya, bisa saja akan kehilangan fans mereka. Tidak hanya produktifitas dalam berkarya saja yang menentukan, untuk sebuah group band yang sudah cukup eksis di belantika musik, kemampuan mewadahi fans dalam sebuah komunitas juga diperlukan.

Konsep mewadahi fans dalam sebuah komunitas inilah yang sepertinya disadari oleh beberapa group Band, Ungu salah satunya. Sebagai sebuah band papan atas dan telah eksis dengan berbagai penghargaan musik, pembentukan komunitas secara offline dan online pun dilakukan.

Secara offline, komunitas ini sudah menggelar beberapa acara berupa kumpul bareng antara para personil Band Ungu dengan para penggemarnya, hal ini dilakukan sejak tahun 2006 dan makin berkembang ditahun 2007. Tidak puas terhubung secara offline maka tahun 2008 Band Ungu resmi mengumumkan situs mereka di www.unguband.com

Komunitas yang menamakan dirinya Cliquers ini juga sebenarnya ikut membantu manajemen Band Ungu ke depannya, karena mereka tidak segan-segan memberikan masukan dan penilaian tentang lagu yang telah diciptakan ataupun yang akan dibuat ke depannya. Yang juga tidak kalah menarik, komunitas ini juga telah membentuk karakter yang kini melekat pada Band Ungu, bila Anda ingat penampilan para personil Ungu sebelumnya yang lebih mengusung tema gothic, maka diakui oleh pihak manajemen bahwa peran komunitas lewat masukan dan saran yang diberikan telah membentuk karakter Band Ungu seperti sekarang, yang menggambarkan para pemusik yang berjiwa muda namun tetap religius.

Mereka yang tergabung dalam Cliquers ini rata-rata berusia antara 13-27 tahun. Usia yang menurut Don Tapscott masuk ke dalam Net-Generation, sebagaimana dijelaskan dalam bukunya yang berjudul ”Grown Up Digital: How Net-generation is Changing Your World.” Mereka yang masuk dalam Net-Generation memang sangat akrab dengan kebebasan, integrasi, haus untuk selalu berkolaborasi, mampu berinteraksi dengan baik menggunakan teknologi, dan menyukai inovasi.

Jika kita kaitkan dengan pemaparan pakar marketing Hermawan Kartajaya, bisa dibilang sangat tepat sekali dengan yang beliau katakan bahwa ini adalah bagian dari New Wave Marketing, dimana para Cliquers ini masuk kedalam sub culture Youth dan Netizen, dan kedepannya mereka yang ada di dalam sub culture ini akan sangat berperan di 2010.

Hal ini dikarenakan eksistensi para youth ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk selalu menjadi perintis berbagai tren yang ada, sedangkan eksistensi dari para netizen memungkinkan mereka untuk saling berbagi informasi dan berdiskusi setiap saat.

Gabungan dari keduanya, akan membuat para Cliquers ini saling terkoneksi (connecting), berkolaborasi (collaboration) dan melakukan apa yang disebut dengan community marketing.

Menurut saya, mungkin Band Ungu dengan para Cliquersnya ini adalah salah satu contoh nyata bagaimana New Wave Marketing dilakukan dalam industri musik, keberadaan komunitas tersebut bisa ikut berperan tidak hanya sebatas pada product development, namun juga ikut terlibat dalam product selling. Anda merasa penggemar Band Ungu, namun belum menjadi bagian dari Cliquers, satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan. How purple are you?

Advertisements

2 comments on “Band Ungu dan peran komunitasnya

  1. Mas, Q Boleh nga ambil and copy kata” di atas untuk fans nya ungu di Timika Papua, Karna di Timika Fansnya ungu banyak and kita baru mau bikin Cliquers , Untuk itu klo mau minta izin buat Cliquers Timika di mna and biar kita jga ada wadah and bisa komunikasi ma temen’ qliquers yang lain and band ungu.
    makasih sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s