hmmmm.. Ponari itu..!!!

Berita satu ini memang lagi menjadi sorotan semua media, bahkan bisa dibilang mampu mengalihkan perhatian masyarakat tentang berita politik maupun krisis global. Termasuk saya, yang biasanya lebih banyak memperhatikan berita2 terkait tentang marketing, tiba2 rasanya tidak sabar ingin ikut serta menulis tentang sosok anak ajaib yang dikabarkan memiliki kemampuan yang hebat. Sosok anak itu siapa lagi kalau bukan Ponari.

Ya, anak yang duduk di kelas 3 sekolah dasar, dan bertempat tinggal di Jombang ini memang sedang berada di puncak popularitasnya (minjem bahasa infotainment). Ribuan orang datang dari segala penjuru Indonesia hanya untuk melakukan pengobatan tradisional di tempat Ponari. Apa pandangan saya tentang hal ini? mau tahu?

Pertama kali melihat berita ini, saya tahu ini tidak masuk akal, hanya dengan mencelupkan sebuah batu milik Ponari ke dalam air minum orang yang sakit, maka orang tersebut bisa sembuh dari penyakitnya. Dalam pandangan saya itu bukan pengobatan tradisional.

Pengobatan tradisional di mata saya adalah ketika seseorang menggunakan ramuan2 tradisonal yang berasal dari alam kemudian dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit. Kalau pengobatan Ponari ini, jelas lebih banyak unsur mistiknya dibandingkan pengobatannya.

Akhirnya munculah kata2 protes dalam pikiran saya, mulai dari tuduhan praktek kemusrikan, memandang bodoh mereka yang berobat, sampai mempertanyakan dimana akal sehat para pasien yang berobat, keluarga si pasien, yang mengobati si pasien, sampai panitia penyelenggara pengobatan massal tersebut.

Tambah lagi berita yang menyebutkan bahwa Ponari di bawa ke rumah sakit karena kelelahan mengobati pasien. Wahhhh rasanya..semakin besar kepala ini dengan semua tuduhan yang ada di pikiran saya sebelumnya, seolah ingin mengatakan “Woyyy…liat tuh dukun loe aja “tepar” di bawa ke rumah sakit bukan diobatin pake batu…loe ngapain masih pada ngumpul disitu”

Wah..enak ya jadi manusia seperti saya, bilang betapa bodohnya orang lain, padahal diri saya sendiri tidak jauh beda bodohnya karena menanggapi hal2 tersebut hanya dari satu sudut pandang dan dengan emosi pula.

Bilang kalau orang lain musrik, padahal saya sendiri terkadang masih suka lihat2 rubrik “apa kata zodiak Anda” di sebuah web site dan bahkan terkadang percaya bila ternyata zodiak saya bagus di bulan ini.

Apa saya merasa bersalah sekarang?

Bukan bersalah lagi, malah merasa berdosa, karena sebagai manusia ternyata saya ini masih rendah ilmunya, masih belum bisa melihat segala sesuatu lebih jauh, lebih luas dan dengan sombongnya memberikan penilaian tentang benar atau salah.

Seperti yang sering dialami banyak orang, bahwa memang berpikir negatif itu lebih mudah daripada berpikir positif, betul gak?? Itu juga yang mungkin dialami oleh saya, lebih mudah menghakimi daripada mempertanyakan apa penyebab sesuatu hal terjadi.

Jadi ingat, dulu saya pernah berdiskusi dengan teman saya membahas suatu permasalahan yang hampir mirip kasusnya dengan Ponari. Ketika saya memberikan pertanyaan, teman saya dengan mudahnya menjawab “Ya itu tergantung dari pribadi masing2 orang sih Sya”. Thats all..cuma itu jawaban dari teman saya.

Mungkin pikirnya dengan menjawab seperti itu semua pertanyaan selesai terjawab. Ya mungkin selesai terjawab tapi itu bukan menyelesaikan masalah, malah terkesan menghindar.

Lagipula apa hubungannya dengan pribadi seseorang, toh kepribadian itu adalah sesuatu hal yang bisa dibentuk, dan banyak dipengaruhi oelh berbagai hal. Jadi jelas kepribadian bukan suatu hal yang kaku, mutlak dibawa dari lahir dan tidak bisa di rubah.

Jadi dengan tegas kini saya menolak bahwa apa yang terjadi pada mereka yang berobat ke Ponari, bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah, namun masih sangat mungkin untuk dirubah

Dan saya juga rasanya dituntut untuk merubah pemikiran dan pendapat saya yang seenak perut mengatakan mereka itu bodoh atau musrik, karena rasanya tidak manusiawi langsung mengambil kesimpulan seperti itu tanpa mengetahui apa penyebabnya.

Ok, sekarang saya mencoba untuk tidak langsung menghakimi suatu persoalan, tidak mau langsung menyebut ini benar atau salah. Saya mau mencoba lebih melihat ke sudut pandang apa penyebab hal ini terjadi, dengan harapan saya yang suka berpikiran sempit ini mampu berpikir lebih luas.

Sebagai seseorang yang masih belajar berpikir luas, saya hanya mengerti bahwa mereka yang berobat ke Ponari adalah mereka yang memang memiliki latar belakang yang berbeda dengan beberapa orang lainnya di Indonesia, terutama di kota2 besar.

Jadi mungkin saja dari segi pendidkan, pengetahuan dan cara berpikir pun berbeda. Maklum kebanyakan orang kota kan merasa sudah hidup serba modern, itu yang namanya hal2 gaib pamornya sudah kalah dari trend teknologi yang sedang berkembang, cara berpikirnya sudah berlogika tingkat tinggi.

Sedangkan masyarakat yang ada di pelosok desa, dikarenakan pendidikan yang kurang, jangan heran bila mereka berpikir tidak secara rasional, sehingga tindakannya banyak diluar akal sehat manusia sehingga mengharapkan kesembuhan dari sebuah batu milik seorang bocah, dan yang terbaru adalah mengharapkan kesembuhan dengan cara mengumpulkan air bekas mandi Ponari. *sungguh tragis*

itu baru dari segi pendidikan dan cara berpikir loh. Bagaimana kalau saya bilang kasus Dukun Cilik Ponari ini adalah bukti kesenjangan dan tidak meratanya pembangunan nasional, adakah yang setuju? *saya setujuuuu…*

Iya mungkin itulah menurut pendapat saya, bagaimanapun juga karena pembangunan yang kurang merata banyak masyarakat kita yang memilih berbagai alternatif menyelesaikan permasalahannya.

Di desa2, rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan masih kurang jumlahnya, sedangkan untuk merasakan pengobatan dan layanan kesehatan yang berkualitas, penduduk desa harus ke kota2 besar dan dengan biaya yang mahal pula. Tidak adanya dana membuat mereka berpikir mencari alternatif lain, ya pergi ke dukun cilik Ponari adalah salah satunya.

Kesehatan masih menjadi barang mahal di negeri kita ini, sebulan yang lalu saja saya habis menjenguk paman yang dirawat di sebuah rumah sakit di jakarta karena pendarahan pada usus, dan Anda tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani penyakit paman saya yg berada di ruang ICU? Satu hari sekitar 62 juta rupiah, sedangkan paman saya berada di ruang tersebut selama 3 hari.

Paman saya cukup beruntung karena biaya ditanggung pihak kantor, tapi bagaimana dengan penduduk desa yang makan sehari-hari saja susah? Sudah waktunya pemerintah dan ikatan dokter Indonesia memperhatikan layanan kesehatan untuk mereka yg kurang mampu, agar mereka yg sakit tidak perlu susah payah mengantri pengobatan Ponari.

Ponari pun tidak bisa disalahkan, toh pada akhirnya dia pun sebenarnya telah menjadi korban eksploitasi terhadap anak-anak. sekolahnya terganggu, waktu bermainnya dengan teman2nya juga tidak ada, bahkan berita terbaru mengatakan bahwa Ponari sudah terpisah dari orang tuanya, karena sekarang dia diasuh oleh orang lain yang juga masih keluarganya.

Dari segi agama jelas ini juga penting. Saya hanya berharap mereka yang biasa berkoar tentang penegakan agama dapat membantu menyelesaikan masalah ini, mereka yang pernah sibuk membahas golput itu haram, serta membahas haramnya rokok, mau turun membantu memperbaiki akidah masyarakat kita.

……

Mudah2an fenomena Dukun Cilik Ponari ini cepat selesai dan semoga kita sebagai masyarakat dapat berpikir lebih baik lagi

Advertisements

2 comments on “hmmmm.. Ponari itu..!!!

  1. Ketika pelayanan kesehatan buruk dan tak kunjung menyembuhkan luka yang dalam, hanya mendung yang menemani pilu dan getir ini, aku hanya bisa parah bersujud di langit-langit pengharapan.

    Hari-hari aku lewati terasa bagai malam tak berkesudahan tanpa adanya suatu kesembuhan. Sementara, mahalnya biaya kesehatan semakin menekan dan menghimpit kehidupanku. Aku hanya bisa terbaring lemas di bawah bayang di tengah terik matahari.

    Berhari-hari, hingga berminggu-minggu aku menderita sakit, berbagai obat kugunakan, namun tiada satupun yang membawa kesembuhan. Aku meraung-raung kesakitan. Hingga akhirnya dewata mengilhamkan kepadaku, Ku dengar sayup-sayup suara-Nya bahwa hanya batu bertuahlah yang sanggup mengobati lukaku.

    Karena di dorong oleh rasa ingin mendapatkan kesembuhan, walaupun di luar akal sehat, bergegas aku mematuhi, menuju tempat itu…………………

    ………………………..

    ………………………..

    Itulah kisah malang hidupku, bermunajat mendapat kesembuhan di tengah buruknya pelayanan kesehatan dan mahalnya ongkos pengobatan.

    sumber:http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com/

  2. @redaksi: hmmm…kok seperti curhat colongan he3x tapi penyampaiannya bagus, menyentuh.
    Oh ya, salam kenal…saya dah berkunjung balik….nice blog..(^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s