Politic + Marketing tahun 2009

Peristiwa besar apa yg kira2 akan kita lalui di tahun 2009 ini? Salah satunya adalah pemilu. Ya, tidak dapat dipungkiri peristiwa satu ini akan kita alami, bahkan segala bentuk persiapan yg mengarah kesana sudah banyak terlihat mulai dari tahun 2008 lalu.

Pemilu yg nantinya akan menjadi awal terbentuknya pemerintahan memang merupakan satu hal penting bagi mereka yg bergerak di bidang politik, tidak sedikit dari para politikus mencoba menarik perhatian dari masyarakat mulai dari kampanye melalui media cetak, bakti sosial, penyelenggaraan event, dan sebagainya.

Kita tidak akan membahas politik untuk sekarang, karena saya sendiri tidak terlalu paham dengan urusan yg satu ini *makanya sering jadi korban politik*

Tapi pernakah teman2 melihat cara para politius tersebut mencoba mencari perhatian masyarakat, dengan banyaknya wajah2 baru yg tidak kita kenal terpampang pada pamflet atau spanduk seolah mencoba memperkenalkan diri sebagai caleg dengan senyum, penampilan rapi dan tidak lupa jargon2 yg terkesan membela kepentingan masyarakat *gak tau deh aslinya kyk gimana..*

Bila diibaratkan sebagai sebuah produk maka politikus ataupun partai tersebut mencoba berpromosi kepada masyarakat, ditengah persaingan dengan partai dan politikus yg lain. Rupanya metode marketing sudah mulai digunakan untuk memenangkan persaingan, yg dikenal dengan istilah political marketing

Bila ada metode marketing yg digunakan berarti kita dapat menganalisanya dari prinsip2 marketing baik itu dari Strategy, Tactic, Value yg ada.

Dilihat dari strategy maka terkait dengan segmentation – targeting dan positioning parpol yg bersangkutan. Menjadi bagian dari 38 parpol yg saling bersaing memang bukanlah hal yg mudah, apalagi bila parpol2 tersebut tidak memposisikan dirinya di mata masyarakat.

Dan juga tidak mudah jika parpol2 tersebut tidak pandai melakukan segmentasi, agar apa yg mereka tawarkan tepat sasaran kepada target yg mereka tuju. Segmentasi nya bisa dilihat dari segmentasi demografis yg terkait dengan tingkat ekonomi masyarakat ataupun tingkat pendidikan. Segementasi psikografis yg terkait dengan usia, jenis kelamin.

Sedangkan bila dilihat dari positioning maka tiap partai pun harus mampu memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat. Gerindra mencoba memposisikan diri sebagai partai yg peduli terhadap nasib petani Indonesia, PDI – P dan Golkar masih tetap memposisikan diri sebagai partai wong cilik, sama halnya dengan Hanura. Ada pula beberapa partai yg memposisikan diri sebagai partai buruh. Tujuannya tidak lain agar masyarakat yg merasa bagian dari segmentasi partai tersebut sehingga mau memilih dan memberikan suara

Sama halnya dalam metode marketing, maka positioning itu adalah janji, sehingga apa yg dijanjikan itulah yg harus ditepati. Meskipun masyarakat kita sudah terlalu sering diberikan janji manis oleh parpol. Setidaknya parpol mungkin bisa menunjukan positioning mereka dengan menjalankan program2 yg telah mereka kampanyekan.

Pernah saya membaca sebuah majalah didalamnya disebutkan apa saja yg coba di tunjukan tiap partai untuk membedakannya di amta masyarakat. Ada partai yg menunjukan kharisma sang pemimpinnya, ada partai yg menunjukan keberhasilan program2 kerjanya, dan masih banyak lagi.

Berbicara tentang perbedaan, berarti berbicara masalah differentiation dalam marketing. Differentiation dalam marketing sendiri kan terkait dengan masalah content (what to offer), context (how to offer), dan infrastruktur atau faktor pendukung, bisa dari sumber daya, teknologi.

Partai A, menunjukan diri sebagai partai dengan program memperjuangkan sembako murah untuk rakyat, partai B menunjukan dirinya dari hasil program2 partai yg berhasil dijalankan, partai C dari kharisma sang pemimpin yg diklaim memiliki banyak pendukung.

Dari masalah context (how to offer), kebanyakan partai masih menggunakan cara2 lama, pemasangan spanduk, poster, pamflet di pinggir jalan, di jembatan penyebrangan masih menjadi cara yg sering dilakukan parpol.Tidak tanggung2 untuk memancing awareness dari masyarakat terhadap program parpol, parpol pun rela menarik kalangan artis. Banyak pro dan kontra tentang masalah ini, ada sebagian yg mengatakan kehadiran artis adalah bukti kaderisasi partai yg gagal.

Namun ada pula yg mengatakan bahwa artis yg mereka rekrut pun juga mengikuti proses kaderisasi, bukan instant. Artis mungkin bisa saja menjadi salahs atu infrastruktur pendukung untuk partai, sedangkan dari segi teknologi yg juga merupakan infrastruktur, apakah partai sudah mengadopsinya?

Ya sudah, sejak fenomena kemenangan Obama yg disinyalir sebagai perpaduan antara kekuatan politik dan teknologi internet, parpol di Indonesia pun tidak mau kalah, yg saya ketahui sudah cukup banyak parpol yg membuat situs pribadi untuk menjaring masyarakat luas. Ada pula yg sampai menggunakan situs jejaring sosial semacam facebook seperti PKS, Gerindra, Demokrat dan beberapa partai lainnya.

Saya juga cukup tertarik dengan salahs atu tulisan di sebuah majalah marketing yg kebetulan sedang membahas tentang Politic Marketing. di dalamnya dikatakan dari segi iklan parpol, maka iklan Gerindra dianggap yg cukup bagus, kok bisa?

Dalam majalah tersebut dikatakan bahwa iklan politik yg cukup baik itu adalah iklan yg ada stimulus emosinya dan dikombinasikan secara visual dan verbal. Karena kecendrungannya adalah iklan2 yg terdapat kesan2 emosional cenderung disimpan oleh memori jangka panjang seseorang.

Stimulus emosi dari iklan Gerindra disampaikan melalui visualisasi tentang kehidupan petani Indonesia dan para pekerja kasar, gambaran tentang kehidupan ekonomi yg semakin sulit, dan semakin terpuruknya produk dalam negeri, kemudian dipadukan dengan semangat perubahan cinta Indonesia dan produk dalam negeri, tidak lupa di kombinasikan dengan sura penyemangat yg megucapkan kata “Gerindra” berulang kali, yg semakin memperkuat rangsangan emosi.

Akan tetapi bagaimanapun cara parpol menunjukan eksistensinya kepada masyarakat, menurut saya yg terpenting adalah parpol tidak hanya menjual tokoh, atau program atau sekedar doktrinisasi kepada masyarakat, karena bila hal itu yg masih dilakukan berarti parpol masih melihat secara internal ke eksternal, apa yg dipunya partai diberikan kepada masyarakat, itu sih cara kuno dalam marketing *wuih gayaaa*

Coba cara melihatnya dari eksternal ke internal, dalam arti parpol melihat dulu needs and wants dari masyarakat, kemudian barulah parpol mencoba mewujudkannya.

Ok rekans, ini mungkin hanya sebatas subjektifitas saya saja, benar dan salahnya, atau mungkin rekan2 punya pemikiran lain yg berbeda dan mungkin lebih baik itu tidak masalah. Saya hanya sekedar mencoba membahas fenomena yg sekrang ini sedang terjadi dan semoga berguna.

Regards….

Advertisements

5 comments on “Politic + Marketing tahun 2009

  1. jenuh mas liat politik di Indonesia, yg kalah gak mengakui kekalahannya,yg menang lupa sama janji2nya ke masyarakat. Coba liat Amerika, keuda kubu yg bersaing sama2 fair mau mngakui kekalahan & kemenanganya. Kapan ya Indonesia kyk gitu?

  2. 38 partai itu terlalu banyak pak…saya setuju dengan pendapat situ yg mengatakan bawa partai harus punya differentiation dan positioning yg kuat buat ngebedain dengan partai lainnya, btw calon dari tiap partai juga kurang mumpuni, atau bisa jadi banyaknya partai ini sebagai siasat atau taktik politik, ah politik itu rumit…golput salah ga golput juga salah!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s