meMarketingkan musik…

Temans…sedikit bertanya nih, mungkin diantara kalian ada yang sering menggunakan transportasi darat semacam kereta api. Entah itu untuk berangkat kerja, berangkat ke kampus, ke rumah teman, saudara, pacar, dosen, nenek, kakek, om, tante dan sebagainya bukan? Nah apa yang biasanya kalian lakuakn selama dalam perjalanan? membaca koran, buku atau majalah kah? mendengarkan musik? atau mendengarkan pembicaraan penumpang lain (husss..jangan bongkar rahasia pribadi ah.).

Kalau saya pribadi mendengarkan musik adalah aktifitas yang paling sering saya lakukan ketika dalam perjalanan menggunakan kereta api. Apalagi bila penumpang semakin bertambah dan penuh sesak, saya lebih memilih berdiri dan secepat kilat memasang headphones di telinga saya, mendengarkan musik melalui handphone saya dan mencoba menikmati satu jam perjalanan yang menyiksa.

Tersiksa bila kita tidak melakukan apa2 hanya berdiri, tidak ada teman buat diajak bicara sambil terhimpit oleh penumpang lain dari sebelah kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah (bawah???? ngapain ada penumpang di bawah gw?? cewe lagi…lagi ngapain tuh cewe??). Ditambah lagi bila para penumpang tersebut menaikan tangannya untuk berpegangan, jadilah satu gerbong itu penuh beraneka aroma, sebelah kiri tercium Axe, kanan tercium harum parfum Channel no.5, depan seorang wanita dengan harum Victoria’s secret body spray, belakang ada harum Issey Miyake, sedangkan bawah tercium aroma ikan asin lengkap dengan sambal terasinya (hehhh..lagi2 yg bawah yang sial..)

Ok cukup dengan semua khayalan “gila2an”nya, kembali ke kegiatan saya mendengarkan musik, inilah yang ingin saya sharing dengan kalian temans…berkaitan dengan masalah marketing, rupanya era marketing yang terus berubah telah mempengaruhi dunia musik dalam mengembangkan aktifitas marketingnya.

Musik memang sudah jadi bagian yang tidak akan pernah terlepas dari kehidupan manusia, semua orang menyukai musik, dan karena sifatnya yang universal membuat kita bisa menyukai musik dari negara manapun, meskipun tidak jarang ada orang2 yang tidak paham musik dalam bahasa Inggris tapi karena iramanya yang enak didengar atau “easy listening” semua jadi menyukainya, minimal ikut nimbrung bernyanyi di bagian reff.

Ok temans…salah satu hal yang mempengaruhi perubahan dalam dunia marketing salah satunya adalah teknologi. Dulu jaman kakek nenek kita mendengarkan musik melalui kaset, jaman pun berubah media berupa kaset diubah dalam bentuk cd or dvd dan sampai sekarang pun masih ada. Kemudian memasuki era web 2.0 dimana internet semakin menjadi bagian dari kehidupan, orang bahkan tidak perlu lagi mendapatkan atau mendengarkan musik melalui cd atau dvd plus pemutar musiknya, kita dapat menikmati musik di era digital ini salah satunya melalui handphone.

Memperolehnya tidak lagi sulit, kita bahkan tidak perlu mendapatkan lagu dari band yang kita sukai dalam bentuk cd atau dvd di toko musik terdekat. Kita dapat memperolehnya dari internet. Mudah bukan.

Menurut pakar marketing Indonesia, yang sekaligus pendiri MarkPlus, Inc dan juga merangkap sebagai bos saya yaitu Hermawan Kartajaya, hal ini disebabkan perubahan pola marketing ke arah new wave marketing. Disebut new wave karena banyak penggunaan media2 baru dalam dunia marketing. Atau lebih simpelnya begini temans..dulu kita dalam membuat konsep untuk melakukan pemasaran banyak menggunakan cara2 lama, menggunakan iklan di tv atau media cetak, promosi besar2an melalui event atau promo dari satu kota ke kota lain, distribusi satu album musik ke satu daerah, belum lagi biaya produksi yang mahal, dan lain2. Intinya dulu konsep marketing yang kita gunakan betul2 high budget meskipun high impact dalam arti penjualan laris.

Nah, sekarang ini bermunculan lah media2 baru di internet, kita sedang memasuki era web 2.0, pada masa ini konsep marketing banyak berubah, para pemasar sudah mulai memperhitungkan lebih detail tentang budget atau dana mereka. Maka kreatifitas pun bermucnulan untuk memanfaatkan era web 2.0 ini sebagai salah satu cara dalam pemasaran. Menurut Hermawan Kartajaya, pemasaran ala new wave marketing ini lebih berfokus pada bagaimana kita memanfaatkan sosial media dalam pemasaran kita, berkolaborasi dengan massa baik melalui komunitas online maupun off line, serta interaksi yang bersifat mobile. Dengan memanfaatkan sebaik mungkin 3 cara tersebut kita telah menerapkan prinsip “low budget high impact” dalam pemasaran kita temans…

Begitu juga dengan industri musik, walaupun cara2 lama masih sering digunakan tapi sudah ada beberapa group band yang memanfaatkan era new wave marketing ini untuk cara promosi produk atau album mereka, saya ambil contoh group band RAN, untuk mempromosikan albumnya, mereka memanfaatkan situs jejaring sosial friendster, dari situlah nama RAN menjadi terkenal dari satu orang ke orang lain dan terus bertambah.

Group band lainnya pun ikut mencoba memanfaatkan situs jejaring sosial, mungkin temans…pernah mendengar group band The S.I.G.I.T, jujur saya lupa kepanjangan nama dari group band ini, yang saya tahu mereka adalah group band musik2 indie. Di belantika musik tanah air mungkin nama mereka tidak sering terpampang di layar televisi seperti nidjie, peter pan, the titans, ada band dan band2 lainnya. Tapi kok mereka bisa begitu populer di Malaysia, Singapore, Jepang bahkan sampai Amerika Serikat?

Ternyata jawabannya adalah band satu ini menggunakan MySpace untuk mempromosikan lagu2 mereka, kreatif bukan. MySpace memang menjadi situs jejaring sosial bagi mereka pecinta musik. Apalagi kini situs tersebut telah mengadakan kerjasama dengan beberapa perusahaan musik dunia seperti Universal, Sony BMG, Warner Music sampai dengan EMI, hal ini semakin mengokohkan situs jejaring sosial tersebut sebagai tempat bagi komunitas musik online untuk saling berinteraksi.

Lewat cara itulah The S.I.G.I.T menjadi band indie yang cukup populer sampai ke mancanegara, melalui MySpace mereka dapat mencari teman yang juga pecinta musik, kemudian mereka dapat menyimpan lagu mereka untuk kemudian orang lain dapat mengakses, mendownloadnya dan mendengarkannya. Karena suka dengan lagunya, maka tawaran konser pun akhirnya berdatangan.

Rupanya sekarang ini juga sudah banyak pemusik yang mengikuti jejak mereka, Mocca, Maliq & the essential, Alexa, dan penyanyi solo Tompi adalah beberapa nama yang dengar2 juga memanfaatkan MySpace untuk pemasaran lagu2 mereka.

Inilah bukti kreatifitas dalam bermusik, dan ini juga merupakan bukti bahwa marketing memerlukan taktik untuk memenangkan pangsa pasar yang ada, tidak hanya dari content (apa yang ditawarkan), tapi context (bagaimana cara menawarkan) juga punya peranan penting, dan industri musik sepertinya sedang mencoba menawarkan produknya dengan cara unik yang didukung dengan infrastruktur berupa pemanfaatan teknologi yang canggih, dengan para pemusik yang berkualitas

Jayalah selalu musik Indonesia
& please..jangan hanya mengusung tema2 cinta my friends….

Advertisements

2 comments on “meMarketingkan musik…

  1. sepertinya ini bukan hal baru sih, udah mulai banyak kok yg pake cara marketing lewat social media. btw gw juga krang tau The S.I.G.I.T, nanti ta coba cari di Myspace…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s